MGEI LEARNING CENTER
5 MEI 2017
[MGEI Learning Center]
Did You Know? "Pemerintah Indonesia Bekerja Sama dengan Jepang dalam Pemanfaatan Limbah Batubara"
Pemerintah menggandeng Jepang untuk memanfaatkan limbah batubara yang dihasilkan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU). Salah satunya sebagai bahan bangunan perumahan.
Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jarman mengatakan, limbah PLTU berbahan bakar batubara sering kali menjadi persoalan bagi lingkungan.
Padahal, limbah PLTU berupa fly ash dan bottom ash dapat dimanfaatkan secara optimal seperti pembangunan infrastruktur pekerjaan umum dan perumahan rakyat. “Pemerintah melalui Kementerian ESDM serius memperhatikan pemanfaatan limbah tersebut dengan bekerja sama dengan Japan Coal Energy Center (JCOAL),” kata Jarman seperti dikutip dari situs resmi Ditjen Ketenagalistrikan Kementerian ESDM.
Menurut Jarman, dalam bauran energi, porsi pembangkit listrik dari batubara direncanakan mencapai 56,97 persen dari total pembangkit listrik yang ada. Sementara kebutuhan batubara saat ini sebesar 87,7 juta ton untuk PLTU batubara.
Jumlah ini meningkat seiring dengan adanya program Pembangkit Listrik 35 Ribu MW. Bahkan pada 2019, diperkirakan kebutuhan batu bara akan meningkat menjadi 166,2 juta ton.
Ini artinya, jika limbah abu batubara berupa fly ash dan bottom ash dihasilkan sekitar 5 persen dari total kebutuhan tersebut, maka limbah itu mencapai 8,31 juta ton di 2019. “Angka 8,31 juta ton merupakan angka yang sangat banyak,” ucap Jarman.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, pemerintah tidak tinggal diam. Kementerian ESDM bersama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan beserta Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) bekerjasama melakukan penelitian pengembangan teknologi serta percepatan pemanfaatan fly ash dan bottom ash untuk pembangunan infrastruktur PUPR.
Sumber :
http://bisnis.liputan6.com/read/2438197/limbah-batu-bara-pltu-akan-dimanfaatkan-jadi-bahan-bangunan-rumah

12 MEI 2017

[MGEI Learning Center]
Did You Know?
"Rumah Batu Berusia 9000 tahun Ditemukan di Pulau Rosemary"
Hunian dari batu yang ditemukan di Pulau Rosemary menjadi bukti kedudukan suku Aborigin selama zaman es terakhir.
Tim peneliti University of Western Australia (UWA) yang menjelajahi Kepulauan Dampier di barat daya Australia Barat telah menemukan bukti dari salah satu pemukiman paling kuno di Australia.
Direktur Centre for Rock Art Research and Management UWA, Jo McDonald, mengatakan bahwa meski penelitian masih berada pada tahap awal, penggalian hunian dari batu di daerah tersebut menjadi bukti kedudukan suku Aborigin di kawasan itu selama zaman es terakhir.
“Penggalian di Pulau Rosemary di Kepulauan Dampier, mengungkap bukti keberadaan salah satu bangunan domestik paling awal di Australia, bertanggal antara 8.000 dan 9.000 tahun silam,” katanya.
Meski banyak ditemukan struktur serupa di Australia, menurut McDonald bahwa rumah-rumah batu di Pulau Rosemary merupakan yang paling tua.
Ia berpendapat, penemuan mengejutkan ini tidak hanya memiliki dampak signifikan pada ilmu pengetahuan, tetapi juga akan sangat bermanfaat bagi masyarakat Aborigin di daerah tersebut dan meningkatkan hubungan mereka dengan budaya dan masa lalu suku mereka.
Peneliti menduga bahwa orang-orang Aborigin masa lampau menggunakan cabang atau bagian tanaman lain untuk membuat atap. Rumah-rumah tersebut juga cukup ‘canggih’, dengan beberapa ruangan.
“Di dalam rumah terdapat beberapa area terpisah, itu bisa jadi merupakan ruang tidur dan area kerja. Ada bukti-bukti, dulunya orang menggiling biji-bijian di lantai batu di dalam rumah, serta sisa-sisa wadah makanan,” ujar McDonald pada The Australian.
Struktur khusus ini akan membantu peneliti untuk menyelidiki bagaimana kelompok Aborigin hidup setelah zaman es terakhir. Pada masa itu, permukaan air laut naik hingga 130 meter—satu meter tiap lima hingga 10 tahun. Kondisi itu akhirnya memisahkan pulau-pulau dari daratan utama.
“Kami berasumsi, kenaikan air laut setelah zaman es memaksa kelompok Aborigin untuk tinggal berdekatan dalam wilayah yang lebih sempit,” ujar Donald.
Meskipun kelompok Aborigin tersebut merupakan pemburu, struktur hunian ini menunjukkan bahwa mereka telah mengembangkan strategi sosial untuk menetap di suatu tempat, untuk mengatasi perubahan lingkungan.
Sumber: www.nationalgeographic.co.id
21 MEI 2017
[MGEI Learning Center]
Did You Know ? "Batu Safir Terbesar ditemukan di Pertambangan Sri Lanka"
Batu sapphire biru terbesar di dunia ditemukan di pertambangan Ratnapura di Sri Lanka. Dengan berat yang menakjubkan yakni 1404,49 karat atau setara dengan sekitar 280gram, para gemologists setempat mengatakan bahwa mereka belum pernah menemukan sebuah batu safir sebesar ini dan diperkirakan harga jual dari batu ini mencapai $175 miliar.
Kebanyakan jenis batu-batuan granit terbentuk ketika magma cair mendingin dan membeku. Namun, sebelum mengalami pembekuan, batu-batuan ini juga telah mengalami panas dan tekanan yang luar biasa hebat. "Batuan granit ini sudah berusia hampir dua miliar tahun dan kemudian mengalami tekanan dan proses pembentukan metamorsa kembali yang terjadi selama 500 juta tahun yang lalu," Kata Simon Redfern, seorang ilmuwan pertambangan dari University of Cambridge di Inggris. "Suhu dan tekanan di dalam akar pegunungan ini mencapai lebih dari 900 C dan tekanan atmosfer lebih dari 9000." "Dalam kasus seperti ini, suhu dan tekanan mengalami perubahan yang sangat lambat, yakni selama jutaan tahun, itulah mengapa kristal safir in dapat tumbuh hingga begitu besar." Setelah permata ini terbentuk, permata ini akan berada di sebuah batu ketika mereka diangakat keatas gunung, yang kemudian mengalami longsor. "dan ketika batu ini terbawa ke permukaan, terbawa oleh sebuah batu dan terkena hujan serta mengalami pelapukakan, dan terangkut ke sungai oleh pasir dari pertambangan Ratnapura," kata Redfern.
Hanya batu safir yang dapat berjuang dan melalui perjalanan seperti ini, batuan lain yang lebih lembut bisa saja sudah menjadi lumpur atau pasir yang berada di pinggiran sungai Sri Langka karena musim hujan deras di negara ini. Batu safir menjadi sangat keras karena mereka terbentuk dari corundum,dan alumunium oksida. "corundum adalah sejenis pasir keras yang bias digunakan menjadi kertas amplas, jika kita menelusur lebih dalam hanya ada jeak besi dan titanium campuran dari alumunium dan oksigen dari corundum yang berkembang dan membentuk batu safir. Bisa dikatakan saif adalah corundum yang kotor. Corundum yang mengandung sedikit besi dan titanium
Sumber : www.nationalgeographic.co.id
26 MEI2017

[MGEI Learning Center]
Did You Know ? "Logam Misterius dari Atlantis Terungkap"
Batang logam misterius yang diduga terkait dengan peradaban Atlantis ditemukan dari kapal karam kuno di lepas pantai Sisilia.
Pada beberapa waktu lalu, arkeolog menemukan logam berwarna kemerahan dari bangkai kapal yang berusia sekitar 2.600 tahun lalu. Selain itu ditemukan juga dua helm Perang Corinthian dan kontainer yang dahulu pernah digunakan sebagai tempat menyimpan benda berharga, yakni minyak wangi.
Gumpalan logam berwarna kemerahan dan berusia lebih dari dua ribu tahun di dasar laut itu telah mengejutkan dunia arkeologi. Beberapa orang pun meyakini bahwa itu adalah orichalcum, logam dari mitos kota Atlantis yang Hilang.
Pada 2015, sebanyak 39 logam yang diduga orichalcum ditemukan. Sementara itu 47 logam lainnya ditemukan pada Februari tahun lalu. "Kapal berasal dari akhir Abad ke-6 SM. Mungkin ia terjebak dalam badai dan tenggelam ketika hendak memasuki pelabuhan," ujar arkeolog Sisilia, Sebastiano Tusa kepada Seeker.
Para arkeolog meyakini, kapal tersebut mengekspor orichalcum dari Yunani atau Asia Kecil. Mengingat orichalcum adalah barang berharga, banyak yang menyebut bahwa itu bukanlah perjalanan yang mudah. "Adanya helm dan senjata digunakan untuk melawan serangan bajak laut," kata Tusa.
Kepada La Repubblica, melindungi bangkai kapal menjadi perhatian mereka. Mereka mengkhawatirkan bahwa penjarah akan melancarkan aksinya karena kurangnya pengamanan dari polisi di perairan yang kaya akan peninggalan arkeologis itu.
Orichalcum merupakan logam berwarna kemerahan yang telah lama dianggap sebagai mitos yang disebutkan hanya sepintas dalam cerita Yunani Kuno oleh orang-orang seperti Hesiod pada Abad ke-8 SM dan Plato pada Abad ke-4 SM.
Salah satu legenda mengatakan, logam tersebut diciptakan oleh raja pertama Thebes, Cadmus, dan bernilai satu tingkat lebih rendah dibanding emas. "Karena besarnya kerajaan, banyak benda yang dibawa untuk mereka dari negara-negara asing, dan pulau itu sendiri menyediakan sebagian besar apa yang dibutuhkan untuk keperluan hidup," tulis Plato tentang Atlantis seperti dikutip dari news.com.au, Senin (6/3/2017). "Di tempat pertama, mereka menggali apa pun yang dapat ditemukan di sana, padat, dan kemudian orichalcum digali dari Bumi di banyak bagian pulau yang kala itu lebih berharga dari apa pun kecuali emas," tulis dia.
Ia pun melanjutkan bahwa logam tersebut digunakan dalam interior kuil Poseidon yang terletak di jantung Atlantis. "Zona bumi dikelilingi oleh dinding batu beragam warna, hitam dan putih dan mereha, kadangmereka bercampur membentuk ornamen; dinding terluar dilapisi dengan kuningan, kedua dengan timah, dan ketiga yang merupakan dinding perlindungan, menyiratkan cahaya merah orichalcum.
Penelitian menunjukkan, logam tersebut terbuat dari 75 hingga 80 persen tembaga, 14 hingga 20 persen seng, serta nikel, timah, dan besi dalam jumlah kecil. Proses pembuatannya logam Atlantis itu diyakini dirahasiakan.
Sumber : Liputan6.com
